Dihari pernikahanku jam 4.30 pagi, bukan suara alarm yang membangunkanku, melainkan suara dering handphone dari dia, sang mempelai laki2 yang mengatakan bahwa dia ada di bawah depan rumahku mengatakan ingin bertemu
Seketika itu juga jantungku berdegup lebih kencang, seperti mempunyai perasaan yang ga bagus soal kedatangannya
Aku turun dan menemuinya, dia membukakan pintu mobilnya dan akupun masuk kedalam duduk di sebelah nya. Kata2 pertama yang terucap pun tak pernah terlupakan oleh hati
"aku sungguh sangat mencintaimu tapi aku tidak bisa menikahimu"
Sekelibat ingatanku langsung terarah gimana tingkah laku nya ketika kami sedang fitting baju pengantin di hari terakhir2 sebelum hari H, dia tegang tapi ketegangan itu bertambah jelas saat dia sedang memegang handphone nya, beberapa kali tidak konsen ketika kami sedang melakukan acara seserahan tapi rasa penasaran dan curiga itu ketika kutanyakan pada dia, hanya dijawab katanya pusing kerjaan. .
Rasa penasaran itu besar tapi ku tepis karena aku percaya dan mencintai dia..
Dan sekarang tanpa berani menatapku, kata2 itu terucap dari bibir dia.. Sejenak dia terdiam dan berucap maaf
Rasa sakit yg luar biasa tak pernah kubayangkan, rasa kesedihan yg teramat dalam, amarah yang ingin kuluapkan di depan mukanya.. Aku menangis, menjerit, memukul2 badannya.. Dia tidak sedikitpun menggubris tindakanku seolah2 menunjukkan rasa bersalahnya.. Disaat puncak kemarahan ku itu pula dia bilang dialah yang akan bertanggung jawab dg segala urusan pembatalan pernikahan kami..
Sejenak kemudian dia masuk ke dalam rumahku, berlutut di hadapan kedua orangtuaku, mengatakan tentang pembatalan itu. . Orangtuaku, ibuku terkaget2 dan dengan emosinya menampar dia lalu mengusir dia keluar dari rumah sementara bapak hanya terdiam dan berusaha menenangkan ibu.
Hari-hari pun ternyata berlalu, tanpa perasaan, tanpa hati, hampa dan kosong.. Akupun lebih banyak mengurung diri di kamar.. Ketika matahari bersinar aku meringkuk di ranjang, menutup gorden jendela supaya sinar itu tidak menyentuh badanku, ketika malam datang aku terjaga terduduk di bawah ranjang dengan tatapan kosong.. Seperti layaknya seorang zombie..
Terkadang ketika terlelap pun mimpi buruk itu datang, tiap kata2 dia di hari pernikahan kami itu seperti sebuah pisau yang menikam dalam.. Menyakitkan sungguh sangat menyakitkan.. Terbangun di tengah malam seperti sebuah kebiasaan baru.. Air matapun menjadi teman paling setia sekarang ini..
Hatiku berteriak mempertanyakan kenapa semua ini harus terjadi..
Rasa yang sedalam ini benar2 bukan rasa yang sebulan lalu aku bayangkan akan kurasakan saat ini..
Tidak ada penjelasan lebih lanjut, dia bak hilang di telan bumi.. Sampai suatu hari ketika seorang teman memaksaku untuk pergi menemaninya berbelanja, .. Ya disanalah aku melihat dia lagi. . Semuanya masi sama, cara dia berjalan, parasnya, smuanya sama.. Cuman satu yang tidak sama. . Aku melihat dia dengan seorang wanita sebaya dan sedang berbadan dua. Senyuman kebahagiaan itu terpancar dari mukanya.. Dan ternyata mungkin inilah jawaban dari setiap pertanyaan, amarah dan tangisanku. .
Disaat itu pula lah aku tersadar dari semua ke zombie an ku selama ini.. Untuk apa semua amarah dan tangisanku. . Untuk apa segala kebodohan yang aku lakukan semenjak dia pergi.. Untuk apa aku meratapi kepergian nya kalau ternyata memang dia tidak layak untukku..
Tak lama setelah aku melihat dia, bapak pun bilang kalau bapak sudah mengetahui sejak lama kalau dia memang telah menghamili wanita lain, bapak memang tidak menentang pernikahan kami karena bapak tahu betapa aku mencintai dia.. Ketika bapak bercerita ibu hanya tertunduk dan menahan air mata.. Seketika itu pula aku memeluk mereka dan meminta maaf atas kelakuanku belakangan ini.. Dan berterima kasih untuk kesabaran mereka menghadapi aku yang begitu keras kepala..
Hari dimana aku tahu dia tidak layak untukku itulah hari dimana aku berdamai dengan hatiku.. Hari dimana aku mulai bersyukur kembali atas segala yang aku rasakan selama ini..
Akupun mulai kembali enjoy dengan hidupku dan kembali ketika aku tidak berharap akan datangnya cinta, ia datang..
Ia yang kembali mengajarkan aku untuk kembali merasakan artinya mencintai.. Karena orangtuaku pun menyukai ia.. Akupun jadi merasa lebih tenang menjalani hubungan dengan ia..
Sampai suatu hari, ketika kami sedang makan malam di restoran, tiba2 ia memegang tanganku lalu ia bilang suatu kata2 yang tak akan pernah terlupakan oleh hati
"aku sungguh mencintaimu dan sangat ingin menikahimu"
Hatiku tertegun sejenak, hatiku berdebar2 seperti belum pernah kurasakan, hatiku sepertinya tersenyum.. Dan mengiyakan pernyataannya.. Memeluknya dan melihat ia begitu berbahagia. . Ya akupun juga berbahagia sama seperti hari dimana aku melihat dia dan wanita pilihannya..
Di hari pernikahanku kali ini, jam 4.30 pagi, suara sms handphone yang membangunkanku.. Itu dari ia, sang mempelai laki2 ku.. Ia hanya mengatakan
"benar2 sangat ga sabar ingin menikahimu dan aku sungguh mencintaimu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar