Jumat, 16 Oktober 2009

Barbara

namanya Barbara, seorang penjahit bukan terkenal, tapi dia satu2nya penjahit yang ada di kota itu.. perawakannya masi proporsional di usia nya yg mulai senja, raut mukanya uda mulai di penuhi oleh keriput2 meskipun mata nya masi awas terbukti dari banyaknya hasil jahitan yang telah dan sedang di kerjakan nya..
Barbara, hampir semua orang di kota itu mengenalnya, semua.. krn dia lahir, tumbuh dan tua di sana.. bahkan mungkin semua juga tau ttg kisah Barbara muda yang enerjik dan periang meskipun dia hanya seorang anak petani..

Tumbuh di keluarga pas2 an membuat Barbara muda harus bekerja sembari menyelesaikan sekolahnya, menjadi perancang busana itu cita2 nya.. Bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah bar itu yang dia lakukan di sela2 waktu dia ga bersekolah.. dan disanalah awal pertemuan dengan Dia..

Dia yang disebut itu bukan orang dari kalangan biasa, ya seorang anak jendral di kota itu, wewenang Sang Jendral yang begitu kuat membuat dia dan seluruh keluarganya begitu di segani di kota itu..
Dia sering menghabiskan waktu di bar tempat Barbara muda bekerja, mungkin memang belum ada waktu yang mempertemukan mereka, meski akhirnya ya waktu itu berpapasan.. mereka saling lihat dan dari saling lihat itu menimbulkan rasa yang lain bagi kedua nya.. ga ada yang sangka dari sana juga mereka mulai merajut tali asmara..

Barbara muda dan Dia begitu serasi.. sang perempuan anggun dan mempesona ketika bersama sang pria yang dewasa dan rupawan.. begitu pas nya mereka berdua, sehingga semua orang pun jg mendukung kisah cinta mereka..

Berita kedekatan Dia dan Barbara muda akhirnya terdengar juga di telinga Sang Jendral, Sang Jendral murka semurka2 nya, langsung marah dan naik pitam memanggil Dia, dan mengancam akan membuat keluarga Barbara hancur jika Dia tidak segera berpisah dari Barbara muda.. Sang Jendral hanya beri waktu 1 malam sebelum mengirim Dia ke luar kota untuk bersekolah..

Dia begitu terpukul mendengar ancaman Sang Jendral, begitu lemas ketika Dia berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah keluarga Barbara.. Barbara muda sedang duduk di depan meja jahitnya waktu Dia datang, Barbara muda dengan bangga dan senang menunjukkan hasil jahitan kemeja untuk Dia yang uda selesai dikerjakannya, menyuruh Dia untuk segera mencoba kemeja jahitannya, Barbara sama sekali ga menyadari ekspresi Dia, sampai akhirnya Dia berkata sembari membelakangi Barbara mencoba hasil jahitannya, sementara Barbara muda melipat baju yg sebelum nya di pakai oleh Dia

Barbara, aku rasa hubungan kita ga bisa lagi di lanjutkan, kita sampai di sini saja..

Mereka berdua tetap diam dalam posisi yang sama saling membelakangi, masing2 dengan ekspresi yang sama.. menahan kesedihan yang teramat dalam.. dan keheningan itu buyar ketika Barbara muda bersuara

Ya, kalau itu mau mu, pergilah pergi kemana kau mau pergi..
Mereka berdua tetap dalam posisi yang sama saling membelakangi, Dia ga menoleh ke arah Barbara muda, demikian pula Barbara muda pun sama.. Dia mulai melangkah maju menuju pintu keluar rumah keluarga Barbara dan itu saat perpisahan mereka.. Ga pernah ada yang tau seperti apa perpisahan mereka kecuali mereka, semua orang di kota pun penuh tanda tanya melihat Barbara muda sudah melenggang sendiri di tiap2 langkah nya dan tak nampak lagi Dia sama sekali di sampingnya..

Barbara melanjutkan hidupnya, dan tersadar dari lamunan masa muda nya di kursi goyang masih di rumah keluarga nya, Barbara tersenyum menatap senja hari itu, dan tanpa disadari itu adalah Barbara dan senja2 nya, Barbara dan sendiri2 nya semenjak Dia pergi..
Barbara tetap bertahan, dan terus bertahan..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku bisa apa?

Inilah ungkapan perasaan dan pikiran wanita usia 34tahun yang telah 3 tahun lebih menikah  dan sedang menantikan supaya bisa segera hamil. ...